Kisah Inspiratif Mahasiswa Universitas Lampung
Ini adalah kisah saya yang dulu saya simpan, tapi saya berpikir jika saya selalu menyimapannya tentu tidak akan bermanfaat. semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi walau hanya cerita sederhana.
Kisah Hidup & Tangan Anehku
Kisah Inspiratif
By: Adi Wiranata
Juara ke I ISM WRITING COMPETITION 2014
Aku terlahir dari keluarga sederhana di sebuah gubuk sederhana tengah sawah, tepatnya di ujung desa yang jauh dari keramaian. 21 Maret 1996, hari dimana aku membuka mata pertama kali melihat dunia yang indah di desa Tanjung Agung, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat tempat paling ujung provinsi Lampung. Ayahku bernama Hadiri, meski sedari kecil menetap di Lampung, namun beliau mewarisi darah Jawa. Sedangkan ibuku bernama Lila Sumyati asli Lampung. Pekerjaan ayah dan ibu adalah seorang petani yakni bertani di sawah milik orang yang hasilnya dibagi dua. Aku anak kedua dari dua bersaudara, Yati Oktavia nama kakakku.
Masa kecil yang ku jalani seperti anak lain pada umumnya. Bermain kelereng, tamiya dan becanda gurau seperti anak kecil yang bahagia. Aku belum terlalu mengerti dan faham bahwa ada yang berbeda dariku. Ada yang janggal yang membuatku terlihat berbeda dibandingkan dengan yang lain. Namu lambat laun pun ku sadari hal tersebut.
“Bu, mengapa aku berbeda?”
“Itu kelebihanmu nak”. Jawab ibu singkat.
Tak terlalu ku fikirkan, karena toh perbedaan ini tidak menimbulkan dampak negatif padaku. Tapi ternyata pemikiranku salah. Sewaktu memasuki jenjang awal Sekolah Dasar, banyak teman yang mengejek tanganku. Aku berusaha sabar, meski dalam hati menangis. Lalu berlanjut saat aku menginjak kelas IV SD, terjadi masalah dengan sekolahku dan mengharuskan guru guru beserta para murid pindah ke SD yang lebih jauh. Hal itu membuatku harus berjalan kaki lebih jauh lagi untuk bersekolah. Tapi tak mengapa, aku tetap semangat bersekolah.
Aku memelihara bebek pada saat itu. Setiap pulang sekolah, aku bermain-main dengan si bebek agar tidak merusak padi orang. Terkadang, aku menjual telor bebek di sekolah dengan harga Rp 800,00 Meski tidak seberapa, namun aku senang karena mendapatkan uang dari usaha sendiri.
Ada suatu kejadian menegangkan yang aku alami semasa SD ini. Hari pertama Ujian Nasional, aku datang 30 menit sebelum Ujian Nasional dilaksanakan.
“Kamu sudah siap UN hari ini, Di?” Tanya salah satu temanku.
“Sepertinya sudah”
“Nomor ujianmu sudah dibawa?”
Dengan gelagat mencari sesuatu, ku buka tasku selebar-lebarnya, ku jamah semua benda-benda yang terdapat di dalam tasku. Kemudian ku bongkar tas ku, ku keluarkan semua isinya. Papan ulangan ada, pensil 2b ada, penghapus ada, peruncing ada, dan ternyata nomor ujian tidak ada! Sudah berkali kali ku lihat kembali merogoh-rogoh isi dari semua kantung di tas, namun tetap saja benda yang ku cari tidak juga kunjung di temukan. Aku panik.
“Jo, titip tasku dulu ya aku mau ngambil kartu ujianku nih di rumah.. Kayaknya ketinggalan”
“Yaampun Adi.. Yasudah, hati-hati ya”
Ku pacu kecepatan ku berlari seperti memacu kuda pada arena pertandingan. Kediamanku sangat jauh dari tempatku menuntut ilmu. Nafas yang sudah terasa tersengal-sengal mengejar waktu agar tidak telat Ujian saat kembali lagi ke sekolah. Aku menangis sejadi-jadinya. Cuacana yang seakan menampar wajah di tambah pula kendaraan yang jarang lewat pada saat itu seakan terus memacu jantung ini lebih cepat. Ku berlari tambah cepat dan semakin cepat hingga sesampainya di rumah, tak ada orang disitu. Bapak sudah pergi ke kebun sedangkan ibu sudah pergi berbelanja bahan makanan ke pasar. Ku sempatkan untuk menenangkan sejenak nafas yang ku ajak berlari mengejar waktu tadi, walau tak berfikir untuk mengambil air putih dan berusaha tenang lebih lanjut. Setelah mengambil kartu Ujian yang berada di atas kasurku, secepat kilat aku kembali berlari dari rumah ke sekolah. Di tengah perjalanan aku sekuat tenaga berlari itu, ada bujang desa yang sedang berkendara motor. Aku meminta ia mengantarkanku dan aku membayarnya dengan imbalan Rp 500,00. Untunglah ada pengendara motor yang lewat dan bersedia mengantarkanku ke sekolah. Kalau tidak, mungkin saja aku tidak dapat mengikuti Ujian Nasional pada hari pertama.
Setelah lulus SD aku melanjutkan di SMP Negri 1 Sukau dan jaraknya semakin jauh dari rumah. Ketika SMP aku mulai mempunyai rasa malu lebih karena tanganku dan menjadi tontonan murid-murid baru saat itu. Aku tidak bisa mengelak dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terdiam. Hingga pada suatu saat, seorang guru mengajakku ke sebuah ruangan. Para guru dan aku diperintahkan untuk berdiri tegap disana. Terkejutnya diriku. Dalam hati bertanya-tanya “Ada apa ini?”. Ternyata pak guru yang membawaku ke ruangan ini bertanya pada semua guru-guru disitu perihal ide yang tepat agar aku tak di ejek lagi. Ada seorang guru yang memberikan ide agar aku diberi baju berlengan panjang, mengetahui hal tersebut betapa senangnya rasa hati walaupun pakaian yang diperbolehkan yakni hanya pakai putih abu-abu. Pada saat itu peraturan di sekolahku masih memberi aturan untuk menggunakan celana pendek, terasa aneh ketika hanya diriku yang menggunakan baju lengan panjang dan bercelana pendek. Tapi aku sangat bersyukur setidaknya aku tidak malu ketika hari senin dan selasa. Pernah ketika aku benar-benar merasakan malu dan sempat berfikir akan meminta izin pada ibu untuk memperbolehkanku berhenti sekolah. Tapi setelah berfikir matang-matang, ku urungkan niat ku tersebut. Aku berusaha tegar. Setelah berfikir berkali-kali dan kesimpulannya, saat aku berhenti sekolah, maka aku telah merusak sebagian masa depanku, dan tentu aku tak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menyesal karena gegabah mengambil keputusan.
Semasa kelas VIII, keluargaku pindah rumah dan jarak menuju sekolahku semakin jauh dan pernah berjalan selama beberapa bulan. Ketika berjalanpun banyak sekali hambatan yakni kepanasan ketika cuacanya panas dan basah kuyup ketika musim hujan. Karena itu semua aku memohon kepada ayah dan ibu untuk menyewa tukang ojek bulanan. Ketika berangkat pagi ia menjemputku dirumah sangat pagi-pagi sekali bersama teman-temanku. Ojek yang aku naiki setiap hari tidak dapat disebut nyaman karena setiap hari aku duduk dipaling depan supir beserta dua teman wanita aku di belakang supir. Begitupun ketika pulang dari sekolah aku dan dua temanku pulang paling akhir dari semuanya tekadang perut terasa lapar atau mungkin tidak membawa uang jajan dan ini semua berlaku setiap hari sampai dua tahunan. Oleh karena itu ayah membeli kendaraan bermotor dan memperbolehkan aku mengendarainya menuju sekolah. Dari saat itu aku sedikit merasa lega karena tidak seperti biasa yang paling awal datang dan paling akhir ketika pulang.
Setelah lulus SMP aku melanjutkan sekolahku di SMA Negeri 1 Sukau di sinilah awal dari titik perubahan hidupku. Mulai memberanikan diri berbicara didepan orang banyak ketika Masa Orientasi Siswa (MOS) dan aku memohon izin kepada guru-guru untuk memperbolehkanku menggunakan baju lengan panjang. Semenjak itu semua teman-teman baruku tahu tentang kekuranganku yakni tangan kananku hitam dan aneh. Ketika menginjak kelas dua SMA aku mendapatkan ranking di kelas. Banyak dari kawan-kawan yang tidak suka, mereka mengatakan bahwa ranking yang aku dapat hanyalah sebuah kebetulan semata. Dari disitulah kubuktikan semua bahwa aku bisa dan membalikkan perkataan mereka tentangku dan aku mulai rajin selalu belajar mengerjakan semua tugas-tugas dengan sendiri dan akhirnya rangking bisa dipertahankan dan nilai meningkat. Ketika SMA aku berjalan kaki karena tidak terlalu jauh lagi, tetapi lewat kebun dan jurang karena jalan ini adalah jalan yang cepat. Tetapi aku senang karena ada teman satu kampung denganku yang bisa berbagi bercerita sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Pada suatu hari dibuka pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akupun ikut mendaftar dengan malu karena aku bukan seorang yang pintar dan kepintaranku masih dibawah mereka. Namun dengan optimis dan yakin biasa, aku tetap mendaftar. April akhir, aku mengetahui bahwa 17 pendaftar dari sekolahku diterima lima orang siswa dan salah satunya adalah aku. Ketika mengetahui bahwa aku diterima di Universitas Lampung Program Studi Pendidikan Sejarah, aku bersujud syukur menangis terharu dan ibuku pun menangis mendengar kabar bahagia ini sungguh tiada terkira bahagianya semua itu. Aku seorang yang tidak sembarang bergaul hanya di rumah sangat jarang keluar rumah dan belum mengetahui seperti apa Bandar Lampung. Tapi syukur ada kakak-kakak dari SMA ku yang pernah merasakan susah dan jauhnya Universitas dari tempat asalku. Merekalah yang mengenalkanku di Universitas, karena semangat merekalah aku bisa meniru, karena perjuangan merekalah membuatku semakin yakin. Tidak hanya SNMPTN saja yang diterima tetapi puji syukur Beasiswa BidikMisi juga aku lolos. Begitu senang rasanya kedua orangtuaku mendengar semua itu dan tentunya bisa membantu meringankan pikiran mereka bahwa anaknya juga mampu kuliah seperti orang-orang yang mampu.
Ketika di Universitaspun tidak banyak yang tahu bahwa tanganku berbeda dengan mereka karena aku menyembunyikannya dengan selalu menggunakan baju berlengan panjang setiap hari bahkan teman sekamarkupun di Asrama Rusunawa Unila pun mereka tidak tahu seperti apa anehnya tangan kananku. Mereka hanya tahu ceritaku saja tanpa tahu banyak seperti apa bentuk anehnya tanganku ini. Dari dengan tangan inilah aku yakin bisa bersaing dengan siapapun. Dan itu aku perjuangkan dengan penuh dan semester pertama mendapatkan IPK 3.90 Tentunya masih sangat berharap semester-semester selanjutnya bisa meningkat dan berupaya agar sebisa mungkin aktif di organisasi kampus.
Belum banyak pencapaian yang aku dapatkan tetapi ini semua adalah proses. Banyak lomba-lomba yang aku ikuti dan tak banyak juga yang mengalami kegagalan. Tapi tak mengapa, inilah pembelajaran.
Memang ceritaku tak se-rapih penulis professional dan tak se-menarik para pujangga, tapi disini aku ingin berbagi kisah dan semangat yang benar-benar nyata terjadi pada kehidupanku bahwa kekurangan yang membuat sebuah perbedaan antara kita dengan orang lain adalah bagian dari sebuah semangat yang harus disyukuri.
Karena lomba inilah aku memberanikan untuk menuliskan ceritaku dan memberanikan untuk dipublikasikan. Betapa bangganya kedua orang tuaku dikampung ketika kekurangan anaknya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain karena sebelum menulis tulisan ini aku menelpon ibuku terlebih dahulu dan meminta doa agar aku bisa menang sekaligus meneteskan air mata ketika ibuku berkata “Jangankan tanganmu seperti itu nak, kamu cacatpun kamu tetap anak ibu, akan ibu rawat dan akan ibu sayangi”. Sungguh besar harapanku untuk bisa menjadi pemenang dan di undang pada Acara Talkshow Universitas Teknologi Yogyakarta dan berbagi cerita disana. Semoga ini merupakan langkah awal dalam menggapai cita-citaku untuk menjadi seorang Dosen. Jika aku menang berarti ini adalah anugerah Allah SWT yakni tanganku membawa berkah. aamiin.




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda